Ikut Membangun

Gubernur Minta HKTI Kelola 500 Ribu Hektar Lahan Lebak

Palembang — Telah disetujuinya pengelolaan 500 ribu hektar lahan lebak oleh Presiden RI, Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Alex Noerdin meminta Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sumsel untuk ikut berkontribusi dalam mengelola lahan tersebut. Hal tersebut diungkapkan saat Musprov HKTI ke-VIII, di Hotel Swarna Dwipa, Jumat (29/12).

Permasalahan pertanian di Sumsel cukup kompleks dan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin meminta semua lini stakeholder untuk ikut berpartisipasi mencari solusi. Alex Noerdin mengatakan, terutama Sumsel terkenal sebagai daerah dengan sumber energi yang luar biasa. Masih banyak hal yang dapat digali dan menjadi potensi perekonomian bagi masyarakat Sumsel sendiri.

Alex mengatakan, dengan telah disetujuinya oleh Presiden RI untuk pengelolaan lahan lebak maka ini menjadi kesempatan bagi para petani di Sumsel. Dengan lahan 500 ribu hektar ini bisa dijadikan sebagai lahan pertanian seperti padi dan lainnya.

“Petani memiliki kesempatan untuk mengembangkan pertanian. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam membangkitkan pertanian di Sumsel, dengan gerakan nyata melakukan replanting sawit dan karet, maka kita sangat bersyukur telah disetujuinya pengelolaan lahan tersebut,” jelasnya.

Ketua HKTI Pusat Moeldoko menegaskan, setiap pengurus dan anggota HKTI tidak boleh mengikuti politik praktis dan dilarang menggunakan kendaraan HKTI untuk politik praktis. Setiap HKTI di daerah juga jangan sampai ragu menjalankan program memajukan petani, maka keterlibatan dalam politik dilarang.

“Saya akan dukung HKTI di daerah, maka berpolitik praktis itu pun dilarang. Kita juga meminta ketegasan pemerintah daerah untuk berkomitmen memajukan petani,” jelasnya.

Musrov kali ini membawa agenda penting bagi kemajuan petani Sumsel yang hari ini bisa dikatakan sudah mulai dianaktirikan dibandingkan sektor lain. Apa mau dikata, perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat diera digital begitu memberikan dampak luar biasa terhadap sektor pertanian.

Tak sedikit masyarakat lebih memilih menjual sawah demi membeli sebuah investasi bergengsi diperkotaan, hingga mengalihfungsikan ladang menjadi lahan perumahan yang katanya lebih cepat untungnya dibanding sekedar bercocok tanam. Bahkan di Sumsel tercatat tidak kurang dari 30 persen lahan saat ini sudah beralih fungsi.

Hal inilah yang menjadi tugas Ketua HKTI Sumsel periode 2017-2022, Heri Amalindo. Heri mengatakan, alih fungsi lahan adalah satu permasalahan yang akan dicari solusinya. “Agar bagaimana kedepan perumahan tetap terbangun tanpa mengurangi lahan pertanian,” jelasnya.

Menurutnya, HKTI akan memberikan solusi pada permasalahan pertanian di Sumsel. Salah satunya juga permasalahan pupuk. Tak hanya itu, masalah utama saat ini yang dihadapi oleh petani adalah pasca panen. “Pasca panen, stok barang banyak tetapi harga murah. Maka kedepan kita akan simpan barang dan dikeluarkan untuk kita jual saat harga kembali tinggi,” katanya. (sar***)

 

Baca Juga