Ikut Membangun

Mahasiswa Mengaung Rektor Geleng Kepala

Banyak siswa-siswi setelah tamat SMA/MA/SMK ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, apalagi bagi anak-anak yang lulusan dari SMA dan MA. Mereka lebih banyak memilih untuk berkuliah, masuk sekolah ikatan dinas atau kedinasan dibandingkan langsung bekerja. Lagian juga bagaimana langsung bisa kerja skill yang mereka punya saja hampir tidak ada, karena apa? karena mereka dulunya sekolah di sekolah umum bukan sekolah yang kejuruan, bisa saja mereka bekerja seperti membuat usaha sendiri tetapi untuk itu juga kebanyakan anak tersebut masih ditambah dengan kursus, berbeda dengan SMK yang sekolahnya dulu telah mempelajari kejuruan atau kebidangnya misalkan SMK jurusan teknik mesin bisa saja dia mengajukan lamaran perkerjaan ke suatu Perseroan Terbatas (PT) yang persyaratannya menerima siswa lulusan SMK jurusan teknik mesin.

Di dunia perkuliahan tidak semuanya berjalan mulus, disini sering ditemukan problema mulai dari masalah individu tersebut yang dialami mahasiswanya, masalah dari tempat kuliahnya. Seperti baru-baru ini saja di tahun 2017 tepatnya pada tanggal 3 Agustus 2017, di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Sumatra Selatan terjadi aksi yang berujung kekerasan oleh oknum polisi terhadap 2 mahasiswa yang ingin menuntut dan menyampaikan aspirasi mereka. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) mereka mengadakan aksi yang bertujuan untuk menuntun penurunan UKT.

“Sebenarnya aksi berlangsung damai, namun situasi berubah setelah ada pemecahan kaca. Anggota kita langsung melindungi adik-adik kita mahasiswa yang mau dipukuli oleh oknum securiti, namun dalam perjalanan itu ada sedikit insiden oleh anggota namun sudah kita proses kata Jhon Lee.

Kejadian tersebut sempat membuat viral di berbagai media. Bukan di satu perguruan tinggi itu saja, aksi seperti itu masih sering terjadi di perguruan tinggi negeri lainya. Aksi yang mereka lakukan adalah aksi untuk menyampaikan aspirasi para mahasiswa menuntut hak mereka. Beberapa masalah yang ditemukan di Perguruan Tinggi Negeri diantaranya rasio dosen, sarana dan prasarana serta masalah akreditasi.

Selain masalah diatas, ada temuan yang dianggap tak kalah penting, yaitu masih rendahnya minat terhadap penelitian/ riset terutama di Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta karena dukungan anggaran dari Pemerintah relatif masih kecil.

Masalah yang paling banyak ditemukan di Perguruan Tinggi di Indonesia adalah masih kurangnya penetapan prasarana dan sarana yang ada pada Perguruan Tinggi, seperti fasilitas yang didapat oleh mahasiswa masih kurang atau tidak sesuai dengan apa yang telah disepakati sebelum mereka masuk ke Perguruan Tinggi. Permasalahan tersebut banyak di alami oleh Perguruan Tinggi di daerah luar Jawa.

Seharusnya pihak perguruan tinggi sudah menyediakan fasilitas yang ada seperti yang sudah disepakati, dan pengelompokan UKT dilakukan dengan cara transparan sehingga tidak banyak mahasiswa yang menuntut hak dan melakukan aksi terhadap Perguruan Tinggi , jika terlalu banyak aksi menuntut tentang masalah itu dan itu, bisa membuat kewalahan banyak orang bukan??? Bukan dari pihak mahasiswanya saja tapi dari Rektor bisa ikut pusing memikirkan perihal tersebut.

Jadi wajar saja jika masih banyak Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang melakukan aksi mereka, yang hanya ingin menyalurkan aspirasi dan ingin meminta hak mereka seperti apa yang telah dijanjikan, selagi mereka menyalurkan aksi dan menuntut hak itu secara damai tanpa kekerasan ya… boleh boleh aja ya kan??? Untuk para rektorat atau dekan disetiap perguruan tinggi, aspirasi mahasiswanya didenger jangan dianggukin aja tapi perubahannya gitu-gitu aja, untuk permasalahan ini kan kalo udah selesai nggak bikin para Dekan di setiap Perguruan Tinggi yang punya masalah sama geleng-geleng kepala aja kan?.

Namanya juga Indonesia negara demokrasi jadi haknya boleh dong disampaikan, diterima dengan lapang dada, dan kasih solusi untuk kedepannya.

Penulis:
Erina Tri Ayunanda
Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang

 

Baca Juga